0001 Journey—001 Merdeka ID

Merdeka

Cerita · Perjalanan · UK Boat — Episode 001

Merdeka

Kata di Atas Air

40 menit membaca9.085 kata#001 MerdekaTersedia edisi bahasa Inggris

Sinopsis

Pukul 23.07 pada suatu Jumat malam di bulan September 2026, sebuah gunung api di Selat Sunda berdeham, dan seperempat juta orang mendadak tidak bisa pergi ke mana-mana.

Salah satunya seorang perempuan berusia dua puluh tiga tahun yang duduk di lantai Terminal 3 Soekarno–Hatta. Ia membawa tiket sekali jalan ke Birmingham, sestoples sambal buatan ayahnya yang dibungkus tiga lapis kantong plastik, dan sebuah tagar yang mulai ia sesali. Pukul 23.48 ia mengirimi ayahnya jenis pertanyaan yang semestinya tidak perlu dijawab siapa pun menjelang tengah malam:

Pak, apa aku pengkhianat karena pergi?

Ayahnya tidak menjawab. Maka ia melakukan apa yang dilakukan semua orang di lantai bandara pada tengah malam: ia mencari. Ia mengetik nama kota yang hendak ia tuju dan nama negeri yang hendak ia tinggalkan, dan internet mengembalikan sesuatu yang tidak ia minta. Sebuah catatan pendek, ditulis seorang pelari Indonesia pada pagi 5 September 2015 — sebelas tahun sebelumnya, tepat pada tanggal yang sama — tentang sebuah perahu panjang yang tertambat di sebuah kanal hitam di jantung Inggris, dengan sepatah kata tertulis di lambungnya.

Katanya sendiri. Kata pertama yang pernah dipelajari negerinya untuk dipekikkan.

Catatan itu hanya empat kalimat. Tidak disebutkan di sana siapa yang menuliskan kata itu di lambung perahu, atau mengapa. Tak seorang pun tahu.

Dan perempuan itu hendak mendarat di satu-satunya kota di muka bumi tempat seseorang barangkali masih tahu.

Daftar Bab
  1. PrologGunung Berdeham
  2. Bab SatuCatatan
  3. 📅 Bab Dua — Empat Panggilan Telepon — besok

Prolog

Gunung Berdeham

Gunung itu tidak tahu rencana siapa pun.

Inilah hal pertama yang perlu dipahami tentang malam Jumat, 5 September 2026, dan justru hal inilah yang tidak sanggup dipahami siapa pun di Terminal 3, setidaknya selama dua jam pertama. Anak Krakatau — anak Krakatau yang sesungguhnya, pulau yang muncul dari dasar laut pada tahun 1927 di tempat ibunya dulu meledakkan diri ke angkasa — mulai meletus pukul 23.07 waktu setempat. Tak seorang pun di ruang keberangkatan mendengarnya. Tak seorang pun merasakannya. Langit di atas Tangerang tampak seperti langit Jakarta pada malam-malam lainnya: jingga di tepinya, tanpa bintang, berdengung samar.

Lalu, satu demi satu, tulisan di papan keberangkatan mulai berubah.

DELAYED. DELAYED. DELAYED.

Kemudian, sedikit lewat pukul setengah dua belas, seakan-akan papan itu sudah habis kesabarannya kepada semua orang: CANCELLED.

Laras Ayuningtyas sedang duduk di atas kopernya di dekat Gerbang 7 ketika penerbangan ke Doha berubah merah. Umurnya dua puluh tiga tahun. Ia mengantongi beasiswa S-2 ke University of Birmingham, visa yang tercap di paspor yang masih berbau toko fotokopi, ransel penuh pengisi daya, dan — dibungkus kantong plastik swalayan, di dalam kantong plastik kedua, di dalam kantong plastik ketiga, sebab ayahnya memercayai plastik sebagaimana lelaki lain memercayai Tuhan — sestoples sambal bawang yang dibuat pukul empat sore itu di sebuah dapur di Surabaya.

Ia menatap papan itu. Ia menatap orang-orang di sekelilingnya yang mulai berdiri, seperti padang rumput yang serentak tegak ketika datang angin yang tak kelihatan. Ia mendengar seorang lelaki di belakangnya bertanya, “Gunung? Gunung apa?” dan seorang perempuan menjawab, “Krakatau, Pak, di berita,” dan ia pun berpikir, dengan kejernihan ganjil yang hanya datang pada saat-saat paling buruk: Tentu saja. Tentu saja gunung api. Tak ada satu pun dalam hidupku yang pernah diizinkan pergi dengan tenang.

Ia tidak menangis. Ia ingin hal itu dicatat. Ia duduk lagi, kali ini di lantai, bersandar pada sebuah tiang, lalu membuka ponselnya dan melakukan apa yang kini dilakukan setiap anak muda berumur dua puluh tiga tahun di seluruh dunia ketika tanah bergoyang di bawah kakinya.

Ia membaca kolom komentar.

Tujuh bulan sebelumnya, pada Februari 2025 — sebelum beasiswa, sebelum visa, sebelum semua itu menjadi nyata — Laras mengunggah sebuah utas di X dengan tagar yang minggu itu dipakai separuh negeri: #KaburAjaDulu. Pergi saja dulu. Urusan lain belakangan. Sebagian besar isinya bercanda. Sebagian besar. Daftar sepuluh alasan, ditulis pukul dua dini hari setelah ayahnya pulang dari jam kesebelasnya di atas sepeda motor dan tertidur masih berjaket di meja dapur. Alasan nomor tujuh berbunyi karena aku capek melihat orang-orang yang kusayangi bekerja sampai tertidur dalam posisi duduk. Yang satu itu tidak bercanda.

Utas itu berkelana lebih jauh daripada yang pernah ia tempuh. Empat puluh satu ribu suka. Sembilan ribu kutipan. Sebuah portal berita menangkap layarnya dan memasangnya di bawah judul GEN Z RAMAI-RAMAI INGIN KABUR: SUDAH HILANGKAH NASIONALISME? dengan wajahnya diburamkan — dengan asal-asalan. Bibinya di Lamongan mengenali wajah buram itu. Begitu pula grup WhatsApp bibinya.

Malam ini, karena seseorang menemukannya lagi dan karena internet tak pernah membuang apa pun, balasan-balasan lama itu hidup kembali di bawah kata-katanya seperti jamur di balik kertas dinding.

Kabur pakai beasiswa uang rakyat. Mantap.

Pengkhianat. Jangan pulang sekalian.

Semoga gunungnya tahu diri.

Yang terakhir itu baru. Seseorang menuliskannya empat puluh menit yang lalu.

Laras tertawa, sekali, seperti orang tertawa ketika sesuatu sama sekali tidak lucu, dan seorang anak perempuan di seberang lorong menoleh kepadanya, cemas.

Kemudian ia membuka percakapan dengan ayahnya. Itulah percakapan yang paling jarang ia pakai dan paling sering ia baca: sebuah kolom panjang berisi pesan-pesan ayahnya, hampir semuanya tiga kata yang sama — Wis mangan, Nduk? (Sudah makan, Nak?) — dikirim pukul enam pagi, pukul dua belas siang, pukul sembilan malam, tak pernah bertitik, tak pernah beremoji. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi, lalu mengirim:

LarasPak, flight-ku cancel. Krakatau erupsi. Aku di Soetta, aman.
LarasPak, aku mau tanya satu hal. Jawab jujur ya.
LarasAku pengkhianat nggak sih, kalau pergi?

Dua centang abu-abu.

Keduanya tetap abu-abu. Di rumah di Surabaya, ayahnya tertidur masih berjaket di depan televisi kecil, dan ponselnya tergeletak di meja dapur, menelungkup, di tempat ia selalu meletakkannya supaya cahayanya tidak membangunkannya.

Laras menunggu lima menit. Lalu sepuluh. Lalu, karena kita tidak mungkin duduk di lantai sebuah bandara internasional pada tengah malam memandangi dua centang abu-abu selamanya, ia melakukan hal lain yang dilakukan semua orang.

Ia mencari.

Ia tidak tahu apa yang sedang ia cari. Ia mengetik Birmingham Indonesia, karena itulah kota yang hendak ia tuju dan negeri yang hendak ia tinggalkan, dan karena sebagian dirinya menginginkan bukti bahwa kedua kata itu pernah berada dalam satu kalimat. Internet memberinya apa yang selalu diberikannya: laman sebuah universitas, blog perjalanan, perhimpunan pelajar, restoran halal berbintang empat setengah. Lalu, di halaman kedua, sesuatu yang tidak ia duga. Sebuah daftar panjang berisi perahu. Perahu-perahu yang bernama. UK Boat, begitu judul daftar itu: kumpulan empat ratus tiga puluh dua narrowboat — perahu panjang yang ramping — yang dipotret di sepanjang kanal-kanal Birmingham antara tahun 2015 dan 2017 oleh seorang Indonesia yang pernah tinggal di sana.

Nomor satu berada di urutan teratas.

Ia membaca tanggalnya lebih dulu, karena tanggal itulah yang dicari-cari matanya dengan lapar. 5 September 2015.

Ia melirik jam di ponselnya. 23.52. 5 September 2026.

Sebelas tahun yang lalu. Tepat pada tanggal yang sama.

Lalu ia membaca nama perahu itu, dan menutup mulut dengan telapak tangan, dan anak perempuan di seberang lorong kembali menoleh kepadanya.

Perahu itu bernama Merdeka.

Bab Satu

Catatan

Inilah bagian cerita yang menjadi milik saya, jadi akan saya ceritakan dengan satu-satunya cara yang memungkinkan saya jujur: persis seperti yang saya catat, dan tidak lebih.

Antara tahun 2011 dan 2017 saya tinggal di Birmingham, dan selama tahun-tahun itu saya berlari. Saya berlari menyusuri kanal-kanalnya — sepuluh kilometer pada pagi yang biasa, dua puluh dua kilometer pada pagi yang penuh ambisi — di sepanjang towpath, jalan setapak tepi kanal yang berkelok-kelok menembus jantung kota, satu lantai di bawah jalan raya. Dalam lari-lari itulah saya mulai memperhatikan nama perahu-perahunya — sebab setiap narrowboat di kanal-kanal Inggris membawa sebuah nama, dilukis di lambungnya oleh seseorang yang memilihnya — lalu memotretnya, lalu menulis satu-dua baris tentang masing-masing, dan memberinya nomor. Ketika saya pergi dari kota itu, jumlahnya sudah empat ratus tiga puluh dua.

Nomor satu adalah Merdeka. Inilah seluruh yang saya tulis tentangnya, kata demi kata, pada hari itu juga:

When I was jogging on 5 September 2015 along Birmingham canals, around Cambrian Wharf, I spotted this lovely boat. And her name is Merdeka. Merdeka means freedom, it’s our Indonesian national slogan from the time of independence struggling up to now. What a lovely moment!

(Ketika saya sedang joging pada 5 September 2015 menyusuri kanal-kanal Birmingham, di sekitar Cambrian Wharf, saya melihat perahu yang cantik ini. Dan namanya Merdeka. Merdeka artinya kebebasan, semboyan nasional Indonesia kita sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga kini. Sungguh momen yang indah!)

Di sampingnya, nama berkas fotonya: DSC00372.

Itulah seluruh catatannya. Empat kalimat dan sebuah nama berkas.

Sudah berkali-kali, sejak itu, saya tergoda untuk menambahinya. Seorang pencerita selalu tergoda. Mudah sekali menceritakan kepada Anda warna pagi itu, seekor bangau di tepian seberang, apa yang saya rasakan di dada, apakah saya mengetuk pintu perahu itu, siapa yang membukakan, apa yang mereka katakan. Orang akan percaya. Sebagian di antaranya bahkan mungkin benar.

Namun, tak satu pun dari itu yang saya tuliskan, dan sebelas tahun sudah cukup lama bagi ingatan untuk mulai melukis gambarnya sendiri lalu membubuhkan nama saya di bawahnya. Jadi, hal-hal itu tidak akan saya ceritakan. Yang bisa saya ceritakan adalah apa yang sudah dikatakan catatan itu sendiri, jika kita mendengarkannya dengan saksama.

Catatan itu berkata lovely, dua kali — this lovely boat, what a lovely moment — dan itu bukan kata seorang lelaki yang sedang mengarang cerita. Itu kata seorang lelaki yang baru saja melihat sesuatu yang membuatnya bahagia dan tidak ingin membuatnya lebih rumit daripada kenyataannya.

Catatan itu berkata our. Our Indonesian national slogan — semboyan nasional Indonesia kita. Bukan the. Kata ganti orang pertama jamak yang menyelinap ke dalam sebuah kalimat bahasa Inggris, di kota tempat, selama bertahun-tahun, nyaris tak ada apa pun yang menjadi milik kita.

Catatan itu berkata from the time of independence struggling up to now — bahasa Inggris yang tidak sempurna, dan saya membiarkannya tidak sempurna, sebab ia juga persis benar. Perjuangan itu tidak berakhir pada tahun 1945. Ia berlangsung hingga kini. Ia masih terus berjalan.

Dan catatan itu menyebut tempat dan tanggal. Di sekitar Cambrian Wharf. 5 September 2015.

Cambrian Wharf adalah sebuah kolam kecil di puncak tangga pintu air Farmer’s Bridge, tempat air melebar dan perahu-perahu tertambat berjajar di bawah deretan apartemen. Tanggal itu jatuh pada hari Sabtu. Sembilan belas hari sebelumnya, pada 17 Agustus, Indonesia genap berusia tujuh puluh tahun.

Itu saja. Tidak ada pemilik dalam catatan itu. Tidak ada percakapan. Tidak ada penjelasan mengapa sebuah perahu di kanal Inggris membawa, terlukis di sepanjang lambungnya, kata yang dulu dipekikkan seluruh kepulauan di ujung sebuah perang. Catatan itu sebuah pintu, bukan sebuah ruangan. Ia terbuka, dan kita bisa melihat kata itu, lalu ia berhenti.

Setiap orang Indonesia yang membaca catatan itu seketika mengajukan pertanyaan yang sama. Pertanyaan itu tak perlu dituliskan. Laras mengajukannya di lantai Terminal 3, dengan telapak tangan menutup mulut, sebelas tahun kemudian.

Siapa?

↑ Kembali ke daftar bab · Profitina

💬 Diskusi Komunitas

Written by

Irfan Subakti