Cerita · Perjalanan · UK Boat — Episode 001
Merdeka
Kata di Atas Air
Sinopsis
Pukul 23.07 pada suatu Jumat malam di bulan September 2026, sebuah gunung api di Selat Sunda berdeham, dan seperempat juta orang mendadak tidak bisa pergi ke mana-mana.
Salah satunya seorang perempuan berusia dua puluh tiga tahun yang duduk di lantai Terminal 3 Soekarno–Hatta. Ia membawa tiket sekali jalan ke Birmingham, sestoples sambal buatan ayahnya yang dibungkus tiga lapis kantong plastik, dan sebuah tagar yang mulai ia sesali. Pukul 23.48 ia mengirimi ayahnya jenis pertanyaan yang semestinya tidak perlu dijawab siapa pun menjelang tengah malam:
Pak, apa aku pengkhianat karena pergi?
Ayahnya tidak menjawab. Maka ia melakukan apa yang dilakukan semua orang di lantai bandara pada tengah malam: ia mencari. Ia mengetik nama kota yang hendak ia tuju dan nama negeri yang hendak ia tinggalkan, dan internet mengembalikan sesuatu yang tidak ia minta. Sebuah catatan pendek, ditulis seorang pelari Indonesia pada pagi 5 September 2015 — sebelas tahun sebelumnya, tepat pada tanggal yang sama — tentang sebuah perahu panjang yang tertambat di sebuah kanal hitam di jantung Inggris, dengan sepatah kata tertulis di lambungnya.
Katanya sendiri. Kata pertama yang pernah dipelajari negerinya untuk dipekikkan.
Catatan itu hanya empat kalimat. Tidak disebutkan di sana siapa yang menuliskan kata itu di lambung perahu, atau mengapa. Tak seorang pun tahu.
Dan perempuan itu hendak mendarat di satu-satunya kota di muka bumi tempat seseorang barangkali masih tahu.
Daftar Bab
- PrologGunung Berdeham
- Bab SatuCatatan
- Bab DuaEmpat Panggilan Telepon
- Bab TigaArti Kata Itu Dulu
- 📅 Bab Empat — Ibu dari Blitar — besok
Prolog
Gunung Berdeham
Gunung itu tidak tahu rencana siapa pun.
Inilah hal pertama yang perlu dipahami tentang malam Jumat, 5 September 2026, dan justru hal inilah yang tidak sanggup dipahami siapa pun di Terminal 3, setidaknya selama dua jam pertama. Anak Krakatau — anak Krakatau yang sesungguhnya, pulau yang muncul dari dasar laut pada tahun 1927 di tempat ibunya dulu meledakkan diri ke angkasa — mulai meletus pukul 23.07 waktu setempat. Tak seorang pun di ruang keberangkatan mendengarnya. Tak seorang pun merasakannya. Langit di atas Tangerang tampak seperti langit Jakarta pada malam-malam lainnya: jingga di tepinya, tanpa bintang, berdengung samar.
Lalu, satu demi satu, tulisan di papan keberangkatan mulai berubah.
DELAYED. DELAYED. DELAYED.
Kemudian, sedikit lewat pukul setengah dua belas, seakan-akan papan itu sudah habis kesabarannya kepada semua orang: CANCELLED.
Laras Ayuningtyas sedang duduk di atas kopernya di dekat Gerbang 7 ketika penerbangan ke Doha berubah merah. Umurnya dua puluh tiga tahun. Ia mengantongi beasiswa S-2 ke University of Birmingham, visa yang tercap di paspor yang masih berbau toko fotokopi, ransel penuh pengisi daya, dan — dibungkus kantong plastik swalayan, di dalam kantong plastik kedua, di dalam kantong plastik ketiga, sebab ayahnya memercayai plastik sebagaimana lelaki lain memercayai Tuhan — sestoples sambal bawang yang dibuat pukul empat sore itu di sebuah dapur di Surabaya.
Ia menatap papan itu. Ia menatap orang-orang di sekelilingnya yang mulai berdiri, seperti padang rumput yang serentak tegak ketika datang angin yang tak kelihatan. Ia mendengar seorang lelaki di belakangnya bertanya, “Gunung? Gunung apa?” dan seorang perempuan menjawab, “Krakatau, Pak, di berita,” dan ia pun berpikir, dengan kejernihan ganjil yang hanya datang pada saat-saat paling buruk: Tentu saja. Tentu saja gunung api. Tak ada satu pun dalam hidupku yang pernah diizinkan pergi dengan tenang.
Ia tidak menangis. Ia ingin hal itu dicatat. Ia duduk lagi, kali ini di lantai, bersandar pada sebuah tiang, lalu membuka ponselnya dan melakukan apa yang kini dilakukan setiap anak muda berumur dua puluh tiga tahun di seluruh dunia ketika tanah bergoyang di bawah kakinya.
Ia membaca kolom komentar.
Tujuh bulan sebelumnya, pada Februari 2025 — sebelum beasiswa, sebelum visa, sebelum semua itu menjadi nyata — Laras mengunggah sebuah utas di X dengan tagar yang minggu itu dipakai separuh negeri: #KaburAjaDulu. Pergi saja dulu. Urusan lain belakangan. Sebagian besar isinya bercanda. Sebagian besar. Daftar sepuluh alasan, ditulis pukul dua dini hari setelah ayahnya pulang dari jam kesebelasnya di atas sepeda motor dan tertidur masih berjaket di meja dapur. Alasan nomor tujuh berbunyi karena aku capek melihat orang-orang yang kusayangi bekerja sampai tertidur dalam posisi duduk. Yang satu itu tidak bercanda.
Utas itu berkelana lebih jauh daripada yang pernah ia tempuh. Empat puluh satu ribu suka. Sembilan ribu kutipan. Sebuah portal berita menangkap layarnya dan memasangnya di bawah judul GEN Z RAMAI-RAMAI INGIN KABUR: SUDAH HILANGKAH NASIONALISME? dengan wajahnya diburamkan — dengan asal-asalan. Bibinya di Lamongan mengenali wajah buram itu. Begitu pula grup WhatsApp bibinya.
Malam ini, karena seseorang menemukannya lagi dan karena internet tak pernah membuang apa pun, balasan-balasan lama itu hidup kembali di bawah kata-katanya seperti jamur di balik kertas dinding.
Kabur pakai beasiswa uang rakyat. Mantap.
Pengkhianat. Jangan pulang sekalian.
Semoga gunungnya tahu diri.
Yang terakhir itu baru. Seseorang menuliskannya empat puluh menit yang lalu.
Laras tertawa, sekali, seperti orang tertawa ketika sesuatu sama sekali tidak lucu, dan seorang anak perempuan di seberang lorong menoleh kepadanya, cemas.
Kemudian ia membuka percakapan dengan ayahnya. Itulah percakapan yang paling jarang ia pakai dan paling sering ia baca: sebuah kolom panjang berisi pesan-pesan ayahnya, hampir semuanya tiga kata yang sama — Wis mangan, Nduk? (Sudah makan, Nak?) — dikirim pukul enam pagi, pukul dua belas siang, pukul sembilan malam, tak pernah bertitik, tak pernah beremoji. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi, lalu mengirim:
Dua centang abu-abu.
Keduanya tetap abu-abu. Di rumah di Surabaya, ayahnya tertidur masih berjaket di depan televisi kecil, dan ponselnya tergeletak di meja dapur, menelungkup, di tempat ia selalu meletakkannya supaya cahayanya tidak membangunkannya.
Laras menunggu lima menit. Lalu sepuluh. Lalu, karena kita tidak mungkin duduk di lantai sebuah bandara internasional pada tengah malam memandangi dua centang abu-abu selamanya, ia melakukan hal lain yang dilakukan semua orang.
Ia mencari.
Ia tidak tahu apa yang sedang ia cari. Ia mengetik Birmingham Indonesia, karena itulah kota yang hendak ia tuju dan negeri yang hendak ia tinggalkan, dan karena sebagian dirinya menginginkan bukti bahwa kedua kata itu pernah berada dalam satu kalimat. Internet memberinya apa yang selalu diberikannya: laman sebuah universitas, blog perjalanan, perhimpunan pelajar, restoran halal berbintang empat setengah. Lalu, di halaman kedua, sesuatu yang tidak ia duga. Sebuah daftar panjang berisi perahu. Perahu-perahu yang bernama. UK Boat, begitu judul daftar itu: kumpulan empat ratus tiga puluh dua narrowboat — perahu panjang yang ramping — yang dipotret di sepanjang kanal-kanal Birmingham antara tahun 2015 dan 2017 oleh seorang Indonesia yang pernah tinggal di sana.
Nomor satu berada di urutan teratas.
Ia membaca tanggalnya lebih dulu, karena tanggal itulah yang dicari-cari matanya dengan lapar. 5 September 2015.
Ia melirik jam di ponselnya. 23.52. 5 September 2026.
Sebelas tahun yang lalu. Tepat pada tanggal yang sama.
Lalu ia membaca nama perahu itu, dan menutup mulut dengan telapak tangan, dan anak perempuan di seberang lorong kembali menoleh kepadanya.
Perahu itu bernama Merdeka.
Bab Satu
Catatan
Inilah bagian cerita yang menjadi milik saya, jadi akan saya ceritakan dengan satu-satunya cara yang memungkinkan saya jujur: persis seperti yang saya catat, dan tidak lebih.
Antara tahun 2011 dan 2017 saya tinggal di Birmingham, dan selama tahun-tahun itu saya berlari. Saya berlari menyusuri kanal-kanalnya — sepuluh kilometer pada pagi yang biasa, dua puluh dua kilometer pada pagi yang penuh ambisi — di sepanjang towpath, jalan setapak tepi kanal yang berkelok-kelok menembus jantung kota, satu lantai di bawah jalan raya. Dalam lari-lari itulah saya mulai memperhatikan nama perahu-perahunya — sebab setiap narrowboat di kanal-kanal Inggris membawa sebuah nama, dilukis di lambungnya oleh seseorang yang memilihnya — lalu memotretnya, lalu menulis satu-dua baris tentang masing-masing, dan memberinya nomor. Ketika saya pergi dari kota itu, jumlahnya sudah empat ratus tiga puluh dua.
Nomor satu adalah Merdeka. Inilah seluruh yang saya tulis tentangnya, kata demi kata, pada hari itu juga:
When I was jogging on 5 September 2015 along Birmingham canals, around Cambrian Wharf, I spotted this lovely boat. And her name is Merdeka. Merdeka means freedom, it’s our Indonesian national slogan from the time of independence struggling up to now. What a lovely moment!
(Ketika saya sedang joging pada 5 September 2015 menyusuri kanal-kanal Birmingham, di sekitar Cambrian Wharf, saya melihat perahu yang cantik ini. Dan namanya Merdeka. Merdeka artinya kebebasan, semboyan nasional Indonesia kita sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga kini. Sungguh momen yang indah!)
Di sampingnya, nama berkas fotonya: DSC00372.
Itulah seluruh catatannya. Empat kalimat dan sebuah nama berkas.
Sudah berkali-kali, sejak itu, saya tergoda untuk menambahinya. Seorang pencerita selalu tergoda. Mudah sekali menceritakan kepada Anda warna pagi itu, seekor bangau di tepian seberang, apa yang saya rasakan di dada, apakah saya mengetuk pintu perahu itu, siapa yang membukakan, apa yang mereka katakan. Orang akan percaya. Sebagian di antaranya bahkan mungkin benar.
Namun, tak satu pun dari itu yang saya tuliskan, dan sebelas tahun sudah cukup lama bagi ingatan untuk mulai melukis gambarnya sendiri lalu membubuhkan nama saya di bawahnya. Jadi, hal-hal itu tidak akan saya ceritakan. Yang bisa saya ceritakan adalah apa yang sudah dikatakan catatan itu sendiri, jika kita mendengarkannya dengan saksama.
Catatan itu berkata lovely, dua kali — this lovely boat, what a lovely moment — dan itu bukan kata seorang lelaki yang sedang mengarang cerita. Itu kata seorang lelaki yang baru saja melihat sesuatu yang membuatnya bahagia dan tidak ingin membuatnya lebih rumit daripada kenyataannya.
Catatan itu berkata our. Our Indonesian national slogan — semboyan nasional Indonesia kita. Bukan the. Kata ganti orang pertama jamak yang menyelinap ke dalam sebuah kalimat bahasa Inggris, di kota tempat, selama bertahun-tahun, nyaris tak ada apa pun yang menjadi milik kita.
Catatan itu berkata from the time of independence struggling up to now — bahasa Inggris yang tidak sempurna, dan saya membiarkannya tidak sempurna, sebab ia juga persis benar. Perjuangan itu tidak berakhir pada tahun 1945. Ia berlangsung hingga kini. Ia masih terus berjalan.
Dan catatan itu menyebut tempat dan tanggal. Di sekitar Cambrian Wharf. 5 September 2015.
Cambrian Wharf adalah sebuah kolam kecil di puncak tangga pintu air Farmer’s Bridge, tempat air melebar dan perahu-perahu tertambat berjajar di bawah deretan apartemen. Tanggal itu jatuh pada hari Sabtu. Sembilan belas hari sebelumnya, pada 17 Agustus, Indonesia genap berusia tujuh puluh tahun.
Itu saja. Tidak ada pemilik dalam catatan itu. Tidak ada percakapan. Tidak ada penjelasan mengapa sebuah perahu di kanal Inggris membawa, terlukis di sepanjang lambungnya, kata yang dulu dipekikkan seluruh kepulauan di ujung sebuah perang. Catatan itu sebuah pintu, bukan sebuah ruangan. Ia terbuka, dan kita bisa melihat kata itu, lalu ia berhenti.
Setiap orang Indonesia yang membaca catatan itu seketika mengajukan pertanyaan yang sama. Pertanyaan itu tak perlu dituliskan. Laras mengajukannya di lantai Terminal 3, dengan telapak tangan menutup mulut, sebelas tahun kemudian.
Siapa?
Bab Dua
Empat Panggilan Telepon
Di Terminal 3 saat itu pukul 00.15, Sabtu, 6 September 2026, dan Laras belum beranjak dari tiangnya. Di sekelilingnya, ruang keberangkatan pelan-pelan menata diri menjadi sebuah kota kecil yang sementara. Selalu begitu. Kumpulkan cukup banyak orang Indonesia yang terlantar di satu tempat cukup lama, dan sebuah kampung akan terbentuk dengan sendirinya, seperti kristal yang tumbuh dalam segelas air gula: seorang lelaki entah dari mana mengeluarkan pengeras suara kecil dan memutar dangdut pelan sekali, seperti minta maaf; tiga mahasiswa berjaket almamater yang sama membangun benteng dari koper dan bermain kartu di dalamnya; seorang nenek berkerudung batik membagikan kacang dari stoples plastik besar kepada siapa saja yang lewat dalam jangkauannya, mau atau tidak.
Laras menerima kacangnya. Kita tidak menolak seorang nenek di bandara. Itu tidak aman.
Sudah sebelas kali ia membaca keempat kalimat tentang perahu itu. Ia sudah menggulir daftar nama di bawahnya — Joseph, Just Perfick, Escapology, Saoirse, Journeyman, terus sampai nomor empat ratus tiga puluh dua — dan merasa, secara tidak masuk akal, seolah-olah seseorang telah membiarkan lampu menyala untuknya di sebuah rumah yang belum pernah ia kunjungi. Ia mencoba membayangkan lelaki yang menulis what a lovely moment! pada suatu Sabtu pagi di kota asing, dan mendapati bahwa ia tidak sanggup, dan bahwa ia tidak perlu. Kata itu sudah cukup.
Merdeka. Di sebuah perahu. Di Birmingham. Tepat sebelas tahun sebelum sebuah gunung api menghentikan langkahnya ke sana.
Lalu ponselnya berdering, dan itu ayahnya, dan perahu itu lenyap dari kepalanya.
Ayahnya terbangun tengah malam — ia selalu terbangun tengah malam, tanpa alasan, lalu tidur lagi — dan melihat berita di televisi yang ia biarkan menyala, lalu membalik ponselnya dan melihat pesan-pesan Laras. Ia tidak menyinggung pesan yang terakhir. Ia bertanya apakah Laras aman. Laras menjawab ya. Ia bertanya apakah Laras sudah makan, dan Laras berbohong, bilang sudah. Ia bertanya apakah ada tempat untuk tidur, dan Laras bilang maskapai akan mencarikan hotel, yang saat itu belum benar.
Lalu ayahnya tidak berkata apa-apa sama sekali hampir satu menit, dan Laras mendengarkan napasnya serta suara televisi di belakangnya, lalu ayahnya berkata, dalam bahasa Jawa, sebagaimana ia hanya berbicara kalau ada sesuatu yang penting:
“Nek ra sido mangkat, yo mulih wae, Nduk.”
Kalau tidak jadi berangkat, ya pulang saja, Nak.
Dan Laras menjawab, “Iya, Pak,” lalu ayahnya menutup telepon, dan Laras duduk diam sekali untuk beberapa lama.
Masalahnya, ia tidak tahu apa maksud ayahnya. Itulah soalnya. Itulah soal dengan ayahnya, sepanjang hidupnya. Darsono Wibisono bekerja sembilan belas tahun di sebuah pabrik tekstil di Sidoarjo, menjalankan mesin yang sama pada sif yang sama, sampai musim semi 2025, ketika pabrik itu — seperti begitu banyak pabrik tahun itu, satu demi satu, seperti deretan lampu yang padam di sepanjang lorong panjang — menutup gerbangnya dan menempelkan pengumuman dengan huruf yang terlalu kecil untuk terbaca dari jalan. Umurnya lima puluh satu. Sore itu ia pulang, duduk di meja dapur, dan minta tolong Laras mengunduhkan sebuah aplikasi.
Pada akhir minggu ia sudah punya jaket hijau, helm hijau, dan ponsel yang terpasang di setang sepeda motor tua yang sama, yang selama sembilan belas tahun ia kendarai ke pabrik. Ia mengantar penumpang dan paket keliling Surabaya dari pukul enam pagi sampai angka-angka di aplikasi mengizinkannya berhenti, yang sering kali baru lewat pukul sepuluh malam. Ia tak pernah mengeluh. Tak sekali pun. Tidak soal panas, tidak soal hujan, tidak soal pelanggan yang membatalkan pesanan setelah ia menunggu dua puluh menit, tidak soal sistem penilaian yang bisa merampas bonus sehari hanya karena seseorang sedang uring-uringan. Ia pulang, makan, tertidur masih berjaket, dan pagi harinya sudah pergi sebelum Laras bangun.
Ketika Laras memenangi beasiswa itu — beasiswa sungguhan, beasiswa penuh, uang kuliah, biaya hidup, dan tiket pesawat — ayahnya tidak mengucapkan selamat. Ia tidak berkata Bapak bangga padamu. Ia menjadi sangat pendiam, lalu keluar rumah, dan satu jam kemudian kembali membawa kue dari toko roti di ujung jalan, yang mahal, yang berhias mawar dari krim, meletakkannya di meja, berkata, “Lho, dimakan,” lalu pergi mandi.
Ketika utas itu viral dan bibinya dari Lamongan menelepon ke rumah untuk menanyakan apakah ia tahu anak gadisnya malu pada negerinya sendiri, ayahnya mendengarkan dengan sopan selama sebelas menit, menjawab “Nggih, Mbakyu, nggih” — iya, Mbak, iya — sembilan kali, lalu menutup telepon dan tak pernah sekali pun mengungkitnya di depan Laras.
Dan sore itu — sore hari yang belum diketahui gunung itu — ia berdiri di dapur pukul empat, menggoreng bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit di wajan yang lebih tua daripada Laras, mengisi sebuah stoples, dan membungkusnya dengan tiga lapis kantong plastik. Lalu di bandara Surabaya, sebelum penerbangan sambungannya ke Jakarta, ketika Laras menoleh di antrean pemeriksaan keamanan untuk melambai, ayahnya menjejalkan sesuatu ke tangannya, yang baru ia lihat setelah berada di dalam pesawat.
Sebuah bendera. Yang kecil. Merah putih, bertangkai plastik, jenis yang dijual ribuan pedagang kaki lima setiap Agustus di setiap lampu merah di Indonesia. Agak pudar. Ada lipatan melintang di tengahnya, bekas terlipat lama sekali.
Kalau mau jujur, Laras malu. Terlalu gamblang. Terlalu Agustusan. Ia pergi ke Birmingham untuk belajar machine learning, bukan untuk ikut pawai. Ia memasukkannya ke kantong samping ransel, menelungkup, seperti benda yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Bendera itu masih di sana sekarang, menempel di pinggulnya, sementara ia bersandar pada tiang di Terminal 3 dengan abu gunung api melayang entah di mana di atas kepalanya. Ia bisa merasakannya menembus kain.
Kalau tidak jadi berangkat, ya pulang saja.
Apakah ayahnya senang? Apakah ia sedih? Apakah ia ingin gunung api itu menang?
Laras tidak tahu. Ia menunduk menatap ponselnya, tempat keempat kalimat tentang perahu itu masih terbuka, dan membaca lagi empat kata terakhirnya — what a lovely moment! — dan berpikir bahwa siapa pun yang menuliskannya barangkali tak pernah harus bertanya-tanya, di lantai sebuah bandara, apakah katanya sendiri masih miliknya.
Lalu ia menggulir lebih jauh ke bawah, mencari kelanjutan ceritanya. Tidak ada kelanjutan cerita. Yang ada hanya catatan itu, tanggalnya, nama berkasnya, dan kata itu.
Maka ia membuka tab baru, mengetik merdeka, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mencari tahu artinya.
Bab Tiga
Arti Kata Itu Dulu
Ada sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah dasar, ketika kita berdiri kepanasan pada Senin pagi sambil memegang bendera kertas dan berteriak.
Merdeka bukan kata asli Indonesia. Setidaknya pada mulanya.
Seperti begitu banyak kata yang kita anggap paling akrab dan paling milik kita, kata itu datang dari tempat lain. Ia memulai hidupnya dalam bahasa Sanskerta, lama sekali yang lalu, sebagai maharddhika — kata yang kira-kira berarti besar kemakmurannya, berkuasa, mulia. Kata untuk orang-orang yang beruntung. Kata untuk mereka yang berpunya. Ia berkelana, sebagaimana kata-kata berkelana pada zaman itu, di atas kapal dan di mulut para pedagang, pendeta, dan penyair, menyeberangi Teluk Benggala dan menyusuri Selat Malaka, dan di suatu titik dalam abad-abad panjang perjalanan itu ia terkikis, sebagaimana kata-kata terkikis, melunak, menjadi merdehéka, lalu merdeka, dan maknanya mulai, pelan sekali, berubah.
Ia menjadi berarti bebas. Namun, bukan bebas seperti yang kita maksudkan sekarang — bukan bebas dalam arti berdaulat, bukan bebas seperti sebuah bangsa yang berdiri tegak di bawah matahari. Artinya bebas sebagai lawan dari dimiliki.
Ketika VOC membangun kota bentengnya, Batavia, di pantai utara Jawa pada abad ketujuh belas, kota itu mereka isi dengan orang-orang yang diperbudak dari seluruh penjuru dunia Samudra Hindia — dari pesisir India, dari Benggala, dari Sri Lanka, dari pulau-pulau di timur. Sebagian dari mereka, seiring tahun berganti, dibebaskan: karena pindah agama, karena ditebus, karena kematian tuan yang mencantumkannya dalam surat wasiat. Orang-orang merdeka ini membentuk komunitas sendiri, bertutur dalam bahasa kreol mereka sendiri yang berakar pada bahasa Portugis, membangun gereja sendiri, dan mereka disebut — oleh orang Belanda, yang meminjam kata setempat dan membengkokkannya agar pas di lidah mereka — kaum Mardijker.
Mardijker. Dari merdeka. Artinya, sederhana saja: orang yang dulu milik orang lain, dan kini tidak lagi.
Keturunan mereka masih ada di sana. Di Kampung Tugu, Jakarta Utara, dalam bayang-bayang pelabuhan peti kemas, di sebuah permukiman yang tak akan bisa ditemukan kebanyakan orang Jakarta di peta, ada sebuah komunitas kecil yang masih memainkan musik bernama keroncong Tugu dengan ukulele dan gitar — irama yang sama lambatnya, sama mengayunnya, sama memilukannya, yang kelak mengalir keluar dari Tugu ke radio-radio di seluruh negeri dan menjadi bunyi kerinduan Indonesia itu sendiri. Keroncong pertama adalah musik para budak yang dimerdekakan. Ingatlah itu lain kali Anda mendengarnya di pesta pernikahan.
Rasanya seperti mendapati bahwa jas yang kita kenakan setiap hari seumur hidup ternyata dijahit dari bendera orang lain. Jas itu tidak menjadi kurang milik kita. Ia menjadi lebih berat.
Dan masih ada lagi.
Merdeka kita — pekik itu, tangan yang terangkat, refleks itu — lahir pada tanggal yang pasti. Setelah Proklamasi, Republik yang masih belia itu membutuhkan sebuah salam, cara bagi warganya untuk saling mengenali di sebuah negeri yang, sampai beberapa minggu sebelumnya, tidak diizinkan ada. Salah seorang bapak bangsa, seorang nasionalis Sunda bernama Oto Iskandar di Nata, konon mondar-mandir di rumahnya dengan tinju teracung sambil memekikkan “Indonesia merdeka!” — dan diberi tahu bahwa itu terlalu panjang. Maka dipendekkanlah. Dan pada 31 Agustus 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat: mulai tanggal satu September, setiap warga negara menyalami sesamanya dengan satu kata saja, satu tangan diangkat setinggi bahu, telapak terbuka, lima jari untuk lima sila.
Merdeka!
Terus gemakan pekik ini, begitu bunyi maklumat itu, sebagai gema jiwa yang merdeka. Jiwa yang berjuang dan bekerja. Berjuang dan bekerja. Buktikan.
Lalu — dan inilah bagian yang membuat Laras membeku, di lantai Terminal 3, dengan sebutir kacang tertahan di tengah jalan menuju mulutnya — dua belas tahun kemudian, pada tanggal tiga puluh satu Agustus yang lain, 31 Agustus 1957, di sebuah stadion yang masih baru di Kuala Lumpur, di bawah lampu sorot, di hadapan puluhan ribu orang, seorang lelaki bernama Tunku Abdul Rahman berdiri tepat pada saat negerinya lepas dari Inggris, mengangkat tangan kanannya, dan memekikkan sebuah kata tujuh kali.
Kata yang sama.
Merdeka! Merdeka! Merdeka! Merdeka! Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Stadion itu bernama Stadium Merdeka. Hari kebangsaan Malaysia bernama Hari Merdeka. Jatuhnya pada tanggal tiga puluh satu Agustus.
Artinya, pada 5 September 2015 — hari Sabtu dalam catatan itu — Malaysia baru lima hari sebelumnya merayakan ulang tahun ke-58 Merdeka-nya. Ada puluhan ribu orang Malaysia di Britania Raya. Ada mahasiswa Malaysia di setiap universitas di Birmingham. Ada keluarga-keluarga Malaysia yang datang pada tahun enam puluhan dan tujuh puluhan lalu tak pernah pergi.
Dengan kata lain, perahu itu barangkali sama sekali bukan milik orang Indonesia.
Membaca itu, Laras merasakan sengatan kecil yang tajam dan konyol, yang sesaat kemudian ia kenali sebagai perasaan dirampok — seolah-olah ia menemukan sesuatu yang berharga tergeletak di jalan, memungutnya, mendekapnya di dada, lalu melihat nama orang lain tertulis di baliknya. Konyol. Ia tahu itu konyol bahkan ketika sedang merasakannya. Kedua negeri kita bertetangga, bersaudara, sepupu yang bertengkar di setiap kumpul keluarga soal siapa yang menciptakan rendang dan batik siapa punya siapa. Kita berbagi bahasa yang, hampir sepanjang sejarahnya, adalah satu bahasa. Kita berbagi laut. Dan ternyata kita berbagi pula kata yang tadinya kita kira paling milik kita.
Dan belum semenit merasa dirampok, ia sudah malu karena merasa dirampok.
Sebab kemerdekaan macam apa yang bisa dimiliki? Merdeka macam apa yang bisa cemburu?
Kaum Mardijker di Batavia pasti akan menertawakannya. Mereka lebih tahu daripada siapa pun untuk apa kata itu ada. Ia tak pernah berupa bendera. Tak pernah berupa perbatasan. Ia adalah keadaan yang bisa dimasuki seorang manusia, dari keadaan lain yang lebih buruk. Ia sebuah pintu.
Ia pintu itu sendiri.
↑ Kembali ke daftar bab · Profitina

