@id id-hujan
@lang id
@title Musim Hujan, Musim Sibuk bagi Usaha Binatu
@summary Musim hujan membuat pesanan usaha binatu di Surabaya naik hampir dua kali lipat karena warga sulit menjemur pakaian. Binatu menambah jam kerja, mesin pengering, dan layanan jemput-antar, tetapi tagihan listrik dan keterlambatan juga meningkat. Pemilik usaha menyarankan pelanggan memesan lebih awal dan memilih layanan kilat hanya bila benar-benar perlu.
Musim hujan tahun ini membuat usaha binatu di Surabaya kebanjiran pesanan. Di beberapa binatu kiloan di Rungkut dan Keputih, jumlah cucian yang masuk naik hampir dua kali lipat dibanding bulan kemarau. Penyebabnya sederhana: warga sulit menjemur pakaian di rumah ketika hujan turun hampir setiap sore.

Seorang pemilik binatu di Rungkut mengatakan bahwa ia kini menerima sekitar tiga ratus kilogram cucian setiap hari. Pada bulan biasa, jumlahnya hanya sekitar seratus enam puluh kilogram. Untuk mengejar pesanan, ia menambah satu sif kerja pada malam hari dan membeli dua mesin pengering baru.

Mesin pengering menjadi kunci pada musim seperti ini. Tanpa sinar matahari, cucian yang dijemur di dalam ruangan bisa berbau apek dan butuh dua hari untuk kering. Dengan mesin pengering, cucian yang sama kering dalam satu jam.

Namun tambahan mesin berarti tambahan biaya. Tagihan listrik binatu tersebut naik sekitar empat puluh persen dibanding bulan lalu. Pemilik usaha belum menaikkan harga, tetapi ia mempertimbangkan tarif tambahan kecil untuk layanan kilat.

Layanan jemput-antar juga ramai dipesan. Banyak pelanggan enggan keluar rumah saat hujan, sehingga kurir binatu harus bolak-balik menembus genangan. Beberapa kali kurir terlambat karena jalan di sekitar Medokan tergenang setinggi lutut.

Keterlambatan itu memicu keluhan dari pelanggan yang membutuhkan pakaian kerja keesokan harinya. Pemilik binatu kini mengirim pesan kepada pelanggan jika cucian diperkirakan terlambat. Menurutnya, pelanggan lebih mudah menerima keterlambatan jika diberi tahu lebih awal.

Pemilik usaha menyarankan pelanggan memesan lebih awal selama musim hujan. Ia juga meminta pelanggan memilih layanan kilat hanya bila benar-benar perlu, agar antrean untuk semua orang tetap lancar. Dengan perencanaan yang baik, katanya, musim hujan justru menjadi musim panen bagi usaha binatu.
@end
@id id-pasar
@lang id
@title Pedagang Pasar Tradisional Beralih ke Pembayaran Digital
@summary Pedagang di sebuah pasar tradisional di Sidoarjo mulai menerima pembayaran dengan kode QR setelah mengikuti pelatihan pengelola pasar. Pembayaran digital mengurangi risiko uang palsu dan memudahkan pencatatan, meskipun sebagian pedagang lanjut usia masih kesulitan dan sinyal kadang lemah. Pengelola pasar akan menambah pendamping dan memasang penguat sinyal agar semua pedagang bisa ikut.
Pedagang di sebuah pasar tradisional di Sidoarjo mulai menerima pembayaran dengan kode QR. Perubahan ini terjadi setelah pengelola pasar mengadakan pelatihan setiap Sabtu pagi selama dua bulan. Kini lebih dari separuh pedagang sayur, ikan, dan bumbu memasang kode QR di lapaknya.

Seorang pedagang sayur mengaku awalnya ragu. Ia takut uangnya hilang atau tidak masuk ke rekening. Setelah mencoba selama seminggu, ia merasa pembayaran digital justru lebih aman karena tidak ada lagi uang palsu.

Pembayaran digital juga memudahkan pencatatan. Setiap transaksi tercatat di ponsel pedagang lengkap dengan tanggal dan jumlahnya. Seorang pedagang ikan mengatakan bahwa ia kini tahu berapa penjualannya setiap hari tanpa harus menghitung uang di laci.

Pembeli muda paling cepat menyambut perubahan ini. Mereka jarang membawa uang tunai dan lebih suka membayar dengan ponsel. Sebaliknya, sebagian pembeli lanjut usia masih memilih uang tunai, sehingga pedagang tetap menyediakan uang kembalian.

Tidak semua pedagang merasa mudah beralih. Beberapa pedagang lanjut usia kesulitan membaca notifikasi di layar ponsel yang kecil. Sinyal di bagian belakang pasar juga kadang lemah, sehingga pembayaran tertunda beberapa menit.

Pengelola pasar berjanji menambah pendamping yang siap membantu pedagang setiap hari. Mereka juga akan memasang penguat sinyal di bagian belakang pasar bulan depan. Tujuannya agar semua pedagang, tua maupun muda, bisa ikut menikmati manfaat pembayaran digital.
@end
@id en-library
@lang en
@title A City Library Goes Digital
@summary The city library launched an app that lets residents borrow digital books from their phones, and five thousand accounts were registered in the first week. Students and commuters use it most, while older readers still prefer printed books and need help with passwords. The library plans evening workshops and more titles in Indonesian and regional languages.
The city library has launched an app that lets residents borrow digital books from their phones. In the first week alone, five thousand new accounts were registered. Library staff say the response was far larger than they had expected.

The app offers novels, textbooks, children's stories and local history books. Each loan lasts fourteen days, after which the book disappears from the phone automatically. There are no late fees, which many users say they appreciate.

Students are the most active users. Many borrow textbooks that are too expensive to buy, and read them on the bus on their way to school. Commuters come second, especially office workers who read during the long ride home.

Older readers have been slower to join. Some find the small screen tiring, and others simply prefer the feel of a printed book. Several visitors came to the library to ask for help after forgetting their passwords.

The library does not plan to replace its printed collection. The reading room will stay open every day, and printed books remain the most borrowed items. The app is meant to reach people who cannot easily visit the building.

Next month the library will run evening workshops on using the app, with volunteers from a local university. It also plans to add more titles in Indonesian and in regional languages such as Javanese and Madurese. The head librarian says the goal is simple: a good book should be one tap away for everyone in the city.
@end
@id en-dengue
@lang en
@title How One Neighborhood Fought Dengue Fever
@summary After several dengue cases, residents of a Surabaya neighborhood organized weekly clean-ups to remove standing water where mosquitoes breed. Volunteers checked every house, the health center offered free blood tests, and cases fell sharply within two months. Health officials say the effort worked because neighbors kept doing it together and hope other areas will copy it.
Dengue fever cases rose sharply in one Surabaya neighborhood at the start of the rainy season. Within three weeks, eleven residents had been treated at the local health center. Two of them were children who needed to stay in hospital for several days.

Residents decided they could not wait for the city to act. The neighborhood head called a meeting in the prayer hall, and more than a hundred people came. Together they agreed to hold a clean-up every Sunday morning.

The clean-ups focus on standing water, where dengue mosquitoes lay their eggs. Volunteers empty flower pots, cover water containers and clear gutters. Old tires and plastic buckets, which collect rain easily, are collected and taken away.

Every week a team of volunteers visits each house to look for mosquito larvae. They record what they find in a notebook and remind families who forget to drain their bathtubs. At first some families felt the visits were intrusive, but most soon welcomed them.

The local health center supported the effort with free blood tests for anyone with a fever. Nurses also taught residents to recognize warning signs, such as bleeding gums and severe stomach pain. Patients who were tested early recovered faster.

Within two months, new cases in the neighborhood fell from eleven to one. Health officials say the effort worked because neighbors kept doing it together, week after week, rather than only once. They hope other neighborhoods in the city will copy the Sunday clean-ups before the next rainy season.
@end
