pagi itu hujan turun pelan di surabaya. bu wulan membuka pintu laundry tepat pukul tujuh.
mesin cuci pertama sudah berputar, dan bau sabun memenuhi ruangan.
pelanggan pertama datang membawa dua kantong cucian. isinya kemeja, celana, dan sprei biru.
bu wulan menimbang cucian itu. beratnya empat kilo. ongkosnya dua puluh ribu rupiah.
pelanggan itu tersenyum dan berkata, tolong disetrika rapi, besok saya pakai kerja.
bu wulan mencatat pesanan di buku besar, lalu menempelkan label di setiap kantong.
pukul delapan, adi datang membantu. adi adalah anak tetangga yang rajin dan ramah.
adi memilah cucian menurut warna. yang putih dipisah dari yang berwarna.
kemeja putih tidak boleh dicuci bersama celana merah, kata bu wulan.
kalau dicampur, kemeja putih bisa berubah menjadi merah muda.
adi tertawa dan mengangguk. ia sudah pernah melihat kejadian itu.
hujan mulai reda. matahari keluar dari balik awan.
bu wulan membuka jendela agar angin masuk dan cucian cepat kering.
seorang ibu datang membawa selimut tebal. selimut itu kotor terkena kopi.
bu wulan memeriksa noda itu dengan teliti. noda kopi harus direndam dulu dengan air dingin.
kalau langsung dicuci dengan air panas, noda kopi justru menempel lebih kuat.
ibu itu mengangguk dan bertanya, kapan selimut saya bisa diambil.
bu wulan menjawab, lusa pagi sudah bersih dan wangi.
menjelang siang, pesanan makin banyak. ada handuk, jaket, sprei, dan sarung bantal.
adi menyetrika kemeja satu per satu. ia melipatnya dengan rapi seperti di toko.
bu wulan mengajari adi cara melipat jaket supaya tidak kusut.
lipat lengannya ke belakang, lalu lipat badannya menjadi tiga, kata bu wulan.
adi mencoba, dan hasilnya rapi sekali. bu wulan memujinya.
pukul dua belas mereka makan siang. bu wulan membawa nasi pecel dari rumah.
adi membeli es teh di warung sebelah. udara siang itu panas sekali.
setelah makan, mereka kembali bekerja. mesin cuci kedua mulai berputar.
seorang bapak datang dengan wajah cemas. jas miliknya harus bersih untuk pernikahan besok.
bu wulan melihat jas itu. bahannya halus dan tidak boleh dicuci dengan mesin.
jas ini harus dicuci kering, kata bu wulan. besok pagi sudah bisa diambil.
bapak itu lega dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
sore hari, langit berwarna jingga. cucian yang dijemur sudah kering semua.
adi mengangkat jemuran dan membawanya ke meja setrika.
bu wulan menghitung uang hari itu dan mencatatnya di buku besar.
hari ini ada dua puluh pesanan. semuanya selesai tepat waktu.
pelanggan pertama tadi pagi datang lagi untuk mengambil cuciannya.
kemejanya sudah disetrika rapi dan harum. ia senang sekali.
besok saya bawa cucian lagi, katanya sambil melambaikan tangan.
malam tiba. bu wulan mematikan mesin cuci dan menutup jendela.
adi pulang ke rumah dengan membawa sebungkus kue dari bu wulan.
bu wulan mengunci pintu laundry dan berjalan pulang di bawah lampu jalan.
besok pagi, mesin cuci akan berputar lagi, dan cerita baru akan dimulai.
keesokan harinya, hujan tidak turun. langit surabaya cerah dan biru.
bu wulan datang lebih awal. ia ingin menyelesaikan selimut yang kotor terkena kopi.
selimut itu sudah direndam semalam dengan air dingin. nodanya mulai pudar.
bu wulan mencucinya dengan sabun lembut, lalu membilasnya dua kali.
selimut itu kembali bersih. tidak ada lagi bekas noda kopi.
adi datang membawa kabar. tetangga mereka ingin mencuci karpet besar.
karpet itu berat sekali dan harus dijemur di halaman.
bu wulan setuju, asalkan cuaca tetap cerah sampai sore.
mereka menggulung karpet itu berdua dan membawanya ke tempat cuci.
air sabun mengalir, dan debu lama keluar dari karpet.
sore itu karpet sudah kering dan kembali berwarna cerah.
tetangga itu datang dan terkejut melihat karpetnya seperti baru.
bu wulan tersenyum. baginya, cucian yang bersih adalah kebahagiaan kecil setiap hari.
hari minggu laundry tutup. bu wulan pergi ke pasar bersama cucunya, sari.
di pasar mereka membeli sabun, pewangi, dan gantungan baju yang baru.
sari bertanya, nenek, kenapa sabunnya harus banyak sekali.
bu wulan menjawab, karena setiap hari ada banyak cucian yang harus dibersihkan.
sari tertawa. ia ingin membantu nenek di laundry pada hari senin.
hari senin, sari ikut ke laundry. ia membawa buku gambar dan pensil warna.
bu wulan memberi sari tugas kecil. sari boleh menempelkan label nama di kantong cucian.
sari menulis nama setiap pelanggan dengan huruf besar dan rapi.
ada nama pak budi, bu sinta, mas agus, dan mbak rina.
pak budi membawa enam kemeja kerja. semuanya harus disetrika licin.
bu sinta membawa gorden panjang dari ruang tamu. gorden itu berdebu.
mas agus membawa sepatu olahraga. sepatu itu kotor terkena lumpur.
bu wulan berkata, sepatu dicuci dengan sikat halus, bukan dengan mesin.
mbak rina membawa gaun pesta berwarna hijau. gaun itu harus dicuci dengan tangan.
sari memperhatikan nenek bekerja. setiap kain punya cara mencucinya sendiri.
kain katun boleh dicuci dengan air hangat. kain sutra harus dicuci dengan air dingin.
kain wol tidak boleh diperas terlalu kuat, supaya tidak menyusut.
sari mencatat semua itu di buku gambarnya, lengkap dengan gambar baju.
siang hari, adi datang membawa kabar dari sekolah. ia lulus ujian dengan nilai bagus.
bu wulan senang sekali dan membelikan adi es campur di warung sebelah.
sore itu hujan turun lagi. jemuran harus cepat diangkat.
adi, sari, dan bu wulan berlari ke halaman dan mengangkat jemuran bersama.
untung saja tidak ada cucian yang basah lagi.
mereka tertawa di bawah atap sambil mendengar suara hujan.
malam itu bu wulan bercerita kepada sari tentang laundry pertamanya.
dulu, kata bu wulan, nenek hanya punya satu mesin cuci dan satu setrika.
pelanggannya hanya tetangga di gang ini. sekarang pelanggannya datang dari mana-mana.
sari bertanya, apa rahasianya, nek.
bu wulan menjawab, rahasianya jujur, rapi, dan tepat waktu.
kalau kita menjaga cucian orang seperti menjaga milik sendiri, orang akan percaya.
sari mengangguk. ia menulis kata jujur, rapi, dan tepat waktu di buku gambarnya.
hari selasa, datang pesanan besar dari sebuah hotel kecil di dekat stasiun.
hotel itu mengirim lima puluh sprei, lima puluh sarung bantal, dan tiga puluh handuk.
bu wulan menghitung semuanya dengan teliti dan mencatatnya di buku besar.
pesanan ini harus selesai dalam dua hari, kata pengelola hotel.
bu wulan menelepon dua tetangganya untuk membantu. mereka datang dengan senang hati.
mesin cuci berputar dari pagi sampai malam. setrika tidak pernah dingin.
sprei putih dijemur berjajar di halaman seperti layar kapal.
angin bertiup, dan sprei itu berkibar-kibar di bawah matahari.
pada hari kedua, semua sprei sudah kering, disetrika, dan dilipat rapi.
handuk-handuk juga sudah wangi dan lembut.
pengelola hotel datang dan memeriksa setiap tumpukan.
ia puas dan berjanji akan mengirim pesanan setiap minggu.
bu wulan berterima kasih kepada tetangga yang membantu. ia membagi upah dengan adil.
malam itu, laundry kecil itu terasa lebih hangat dari biasanya.
hari rabu, mesin cuci pertama mengeluarkan bunyi aneh.
bu wulan mematikan mesin itu dan memanggil tukang servis.
tukang servis datang dan membuka mesin itu dengan hati-hati.
ternyata ada koin kecil yang tersangkut di dalam tabung.
koin itu pasti tertinggal di saku celana seorang pelanggan.
sejak hari itu, adi selalu memeriksa semua saku sebelum mencuci.
ia menemukan pulpen, tisu, kunci, dan kadang-kadang uang kertas.
semua barang itu dimasukkan ke dalam amplop dan dikembalikan kepada pemiliknya.
pelanggan senang karena barang mereka tidak hilang.
hari kamis, seorang nenek datang membawa kebaya tua.
kebaya itu milik ibunya dan sudah berumur lebih dari lima puluh tahun.
kainnya tipis dan warnanya mulai pudar.
bu wulan memegang kebaya itu dengan hati-hati, seperti memegang benda berharga.
kebaya ini tidak boleh dicuci dengan mesin, kata bu wulan.
ia merendamnya sebentar dalam air dingin dengan sabun khusus.
lalu ia membilasnya pelan-pelan dan mengeringkannya di tempat teduh.
tiga hari kemudian, kebaya itu kembali bersih tanpa rusak sedikit pun.
nenek itu menangis bahagia. kebaya itu akan dipakai cucunya saat menikah.
hari jumat, laundry sepi. bu wulan memakai waktu itu untuk membersihkan ruangan.
adi mengecat ulang papan nama laundry dengan warna biru dan putih.
sari menggambar mesin cuci yang tersenyum di pojok papan nama itu.
orang-orang yang lewat berhenti dan tersenyum melihat gambar sari.
beberapa di antaranya masuk dan bertanya tentang harga cuci setrika.
bu wulan menjelaskan dengan ramah. cuci setrika lima ribu rupiah per kilo.
cuci kering untuk jas dan gaun dihitung per potong.
pelanggan baru itu berjanji akan datang besok pagi.
hari sabtu, laundry ramai sekali. antrean sampai ke pintu.
bu wulan, adi, dan sari bekerja bersama tanpa berhenti.
setiap pelanggan dilayani dengan senyum, walaupun semua orang lelah.
sore harinya, bu wulan menghitung pesanan minggu itu.
ada seratus dua puluh pesanan, dan tidak ada satu pun yang terlambat.
bu wulan menutup buku besar dan memandang laundry kecilnya dengan bangga.
jujur, rapi, dan tepat waktu, bisik sari sambil tersenyum.
